Kunjungan
Lapangan (Field Trip) ke Lokasi Pembangunan Waduk Rajui, Kecamatan Padang
Tiji, Kabupaten Pidi, Provinsi Aceh
Sabtu pagi
tepatnya pada tanggal
9 Maret 2012 saya mengikuti kunjungan lapangan bersama teman-teman seangkatan 2009 ke daerah-daerah terkait lokasi pembangunan
waduk, bendung dan bendungan, baik yang masih dalam tahap kontruksi maupun yang
telah beroperasi. Kunjungan ini diharapkan dapat membuka wawasan bagi para
mahasiswa dan mahasiswi yang mengambil mata kuliah yang berkenaan dengan bidang
hidroteknik yaitu bangunan air dan irigasi serta pelabuhan.
Field Trip begitulah sapaan
bagi kunjungan lapangan yang kami lakukan tiap tahunnya. Kali ini kami
melakukan kunjungan ke 3 daerah yaitu Rajui, Keumala, dan Tiro. Meskipun
perjalanan ini bukanlah perjalanan yang memakan waktu yang singkat bahkan menguras banyak
energi, tapi tetap saja banyak hal yang kita lihat dan pelajari.
Nah perjalanan dimulai
sekitar pukul 8.00 am dengan menggunakan empat bus DAMRI. Lokasi yang menjadi destinasi pertama kami adalah
Pembangunan Waduk Rajui di Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidi, Provinsi Aceh.
Dari hasil peninjauan ini, selain mendokumentasikan beberapa objek yang
diperlukan. Kami juga menemui salah satu narasumber yang terlibat lansung dalam
pembangunan waduk ini. Beliau menuturkan banyak hal, termasuk data-data serta
ulasan mengenai proses berlangsungnya pembangunan.
Sebelum berbicara banyak tentang Waduk Rajui, perlu kita ketrahui definisi
dari waduk itu sendiri. Waduk/bendungan adalah bangunan penampung air yang
ditempatkan pada suatu cekungan pada suatu daerah yang mempunyai sumber
air yang terbatas atau tidak tersedianya air secara kontinyu sepanjang
tahun. Bangunan ini diharapkan dapat menampung kelebihan air dimusim
hujan sehingga dapat dimanfaatkan pada musim kering. Dengan perencanaan
yang tepat terhadap penempatan tubuh bendungan, desain struktur serta hidrolis,
perencanaan pola tanam dan operasional diharapkan tampungan air tersebut dapat
menjamin tersedianya air sepanjang tahun baik untuk irigasi maupun air baku
untuk air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Kabupaten
Pidie di Provinsi Aceh merupakan wilayah yang mempunyai potensi pengembangan
areal pertanian dan peningkatan status dari areal pertanian tadah hujan
menjadi areal yang beririgasi teknis terutama untuk tanaman padi.
Potensi tersebut dapat dikembangkan dengan tersedianya prasarana sumber
daya air yang memadai, hal ini dapat dilakukan dengan cara
membangun prasarana baru atau meningkatkan & memelihara prasarana
yang sudah ada. Pembangunan waduk/bendungan adalah salah satu cara untuk
menyediakan prasarana irigasi tersebut.
Dewasa ini memang telah banyak upaya
yang dilakukan pemerintah Pidie maupun pusat untuk meningkatkan kualitas,
kuantitas dan juga kontinuitas sektor pertanian Pidie. Salah satu proyek yang
sedang dalam tahap kontruksi adalah Pembangunan Waduk Rajui. Lokasi
waduk terletak di desa Mesjid Tanjong, kecamatan Padang Tijie Kabupaten Pidie,
yang berjarak 92 km ke arah timur dari kota Banda Aceh atau 6 km dari
pusat kecamatan Padang tijie atau 17 km kearah utara dari kota
Sigli ibukota Kabupaten Pidie dengan jalan masuk dari jalan negara lebih kurang
3 km. Ditinjau dari posisi
geografis Lokasi Waduk Rajui terletak pada kooedinat 95.49'09"
-95.50'09" BT dan 05.23'39" LU.
Daerah ini memang diperkirakan
merupakan lokasi yang tepat untuk dibangunnya waduk atau bendungan, mengingat
Waduk Rajui ini sendiri nantinya akan menerima sumbangan air sebagai tampungan
atau storage yang berasal dari presipitasi air hujan efektif dan juga sumbangan
air dari Krueng Rajui. Nah ini yang medorong rasa penasaranku lebih dalam,
dimana kita mengetahui tentu pembangunan suatu waduk atau bendungan pastinya
membutuhkan data perencanaan yang detail. Banyak hal yang dipertimbangkan
layaknya data curah hujan, data durasi penyinaran matahari, data
evapotranspirasi, dan data laju peresapan air tanah serta data lainnya yang
menunjang operasi dari waduk itu sendiri.
Untuk itu sebelum kita observasi
lebih dalam, mari kita lihat dulu data hidroklimatologi lokasi pembangunan
Waduk Rajui. Curah hujan rerata bulanan adalah 116 mm, rata-rata curah
hujan tahunan wilayah 1.132 mm. Menurut Bada Meteorologi dan Geofisika Blang
Bintang, daerah waduk termasuk dalam tipe iklim C (Schemidt Ferguson) dengan
nilai Q = 0,5429. Dari hasil pencatatan suhu dan kelembaban udara
stasiun terdekat menyebutkan bahwa kelembaban rata-rata
76,4 % atau dengan kisaran 60% - 86%. Penyinaran matahari berkisar antara
42% - 72% dengan lama penyinaran 3,4 - 6 jam/hari.
Waduk
seluas 33 hektar tersebut diharapkan mampu mengairi 1.000 hektar lebih areal sawah di Padang Tiji dan sekitarnya dengan pola
tanam pada umumnya yaitu padi-padi-palawija. Berdasarkan penuturan narasumber, Pembangunan waduk
Rajui menelan biaya sekitar Rp135 Miliar yang bersumber dari dana APBN 2010
yang dikerjakan dengan pola multiyears diperkirakan akan rampung pada tahun
2012. Kehadiran waduk tersebut diharapkan bisa menjawab kebutuhan air para
petani.
Total tampungan debit air di Waduk Rajui mencapai 2,6 Juta
meterkubik, dengan luas genangan 33,6 hektar, sekaligus sebagai penyedia air
baku untuk wilayah Padang Tiji dan sekitarnya. Pembanguna waduk
ini sendiri terdiri dari empat bangunan inti yaitu tubuh bendungan, pelimpah
atau spillway, bangunan sadap dan
pengelak, dan bangunan pengarah aliran.
Tubuh
bendungan direncanakan type urugan homogen, dengan koefisien permeabilitas
bahan timbunan (k) = 3,445 x 10-6 cm/dt, dengan kedalaman pondasi tubuh
bendungan rata-rata 10 m. Tinggi Bendungan
(H) : 41,20, Elevasi muka tanah
asli derah genangan : + 30,20, Elevasi Tampungan Mati (LWL) : + 33,00, Elevasi Tampungan
Efektif (NWL) : + 57,50 m, Elevasi
Muka Air Banjir (HWL) : + 58,99 m, Elevasi Puncak
Tubuh Bendung : + 61,20 m.
Bangunan
pelimpah terletak pada tumpuan kanan bendungan dengan karakteristik hidrolis
pada ujung hilir saluran peluncur mempunyai Kecepatan (V) = 21,65 m/dt,
Bilangan Froude (Fr) = 6,30 dan debit per satuan lebar (q) = 7,30. Type Pelimpah adalah Pelimpah Bebas Type
Ogee dengan kelebaran pelimpah yaitu 10 m. Pelimpah ini
sendiri telah direncanakan dengan adanya kolam olakan dengan panjang 15 m dan
lebar m untuk meredam energi air yang ditimbulkan oleh potensial elevasi.
Bangunan
Sadap dan Pengelak menjadi satu yang berbentuk terowongan penyalur (Outlet
Channel) dengan konstruksi beton bertulang, dimana nantinya akan dimanfaatkan untuk
1.000 ha sawah dan pemanfaatan untuk air baku dengan rencana debit pengambilan
(Q) = 2,08 m3/dt. Bangunan sadap yang berupa terowongan
ini akan dibangun dengan panjang terowongan 155 m dan diameter 1,75 m.
Sedangkan bangunan pengelak ini sendiri akan dibangun dengan diameter yang sama
dengan bangunan sadap namun dengan panjang terowongan 25 m.
Bangunan aliran diperlukan mengingat tampungan Waduk Rajui juga akan
berasal dari input Krueng Rajui, sehingga diperlukan bangunan yang dapat
mengalihkan aliran dari Krueng Rajui untuk mengisi tampungan Waduk Rajui.
Demikianlah sekilas ulasan tentang Bendungan Rajui yang masih belum rampung
pembangunannya, semoga Waduk Rajui ini bisa beroperasi sesuai dengan ekspektasi
dan perencanaannya yaitu meningkatkan produksi pertanian dan menciptakan lapangan kerja di
kecamatan Padang Tiji dan memenuhi penyediaan air baku untuk air
minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar