Sabtu, 24 Maret 2012

Kunjungan Lapangan (Field Trip) ke Lokasi Pembangunan Waduk Rajui, Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidi, Provinsi Aceh


Kunjungan Lapangan (Field Trip) ke Lokasi Pembangunan Waduk Rajui, Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidi, Provinsi Aceh

Sabtu pagi tepatnya pada tanggal 9 Maret 2012 saya mengikuti kunjungan lapangan bersama teman-teman seangkatan 2009 ke daerah-daerah terkait lokasi pembangunan waduk, bendung dan bendungan, baik yang masih dalam tahap kontruksi maupun yang telah beroperasi. Kunjungan ini diharapkan dapat membuka wawasan bagi para mahasiswa dan mahasiswi yang mengambil mata kuliah yang berkenaan dengan bidang hidroteknik yaitu bangunan air dan irigasi serta pelabuhan.
Field Trip begitulah sapaan bagi kunjungan lapangan yang kami lakukan tiap tahunnya. Kali ini kami melakukan kunjungan ke 3 daerah yaitu Rajui, Keumala, dan Tiro. Meskipun perjalanan ini bukanlah perjalanan yang memakan waktu yang singkat bahkan menguras banyak energi, tapi tetap saja banyak hal yang kita lihat dan pelajari.
Nah perjalanan dimulai sekitar pukul 8.00 am dengan menggunakan empat bus DAMRI. Lokasi yang menjadi destinasi pertama kami adalah Pembangunan Waduk Rajui di Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidi, Provinsi Aceh. Dari hasil peninjauan ini, selain mendokumentasikan beberapa objek yang diperlukan. Kami juga menemui salah satu narasumber yang terlibat lansung dalam pembangunan waduk ini. Beliau menuturkan banyak hal, termasuk data-data serta ulasan mengenai proses berlangsungnya pembangunan.
Sebelum berbicara banyak tentang Waduk Rajui, perlu kita ketrahui definisi dari waduk itu sendiri. Waduk/bendungan adalah bangunan penampung air yang ditempatkan pada suatu cekungan pada suatu daerah yang mempunyai sumber air yang terbatas atau tidak tersedianya air secara kontinyu sepanjang tahun.  Bangunan ini diharapkan dapat menampung kelebihan air dimusim hujan sehingga dapat dimanfaatkan pada musim kering.  Dengan perencanaan yang tepat terhadap penempatan tubuh bendungan, desain struktur serta hidrolis, perencanaan pola tanam dan operasional diharapkan tampungan air tersebut dapat menjamin tersedianya air sepanjang tahun baik untuk irigasi maupun air baku untuk air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Kabupaten Pidie di Provinsi Aceh merupakan wilayah yang mempunyai potensi pengembangan areal pertanian dan peningkatan status dari areal pertanian tadah hujan menjadi areal yang beririgasi teknis terutama untuk tanaman padi.  Potensi tersebut dapat dikembangkan dengan tersedianya prasarana sumber daya air yang memadai, hal ini dapat dilakukan dengan  cara  membangun prasarana baru atau meningkatkan & memelihara prasarana yang sudah ada.  Pembangunan waduk/bendungan adalah salah satu cara untuk menyediakan prasarana irigasi tersebut.
            Dewasa ini memang telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah Pidie maupun pusat untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan juga kontinuitas sektor pertanian Pidie. Salah satu proyek yang sedang dalam tahap kontruksi adalah Pembangunan Waduk Rajui. Lokasi waduk terletak di desa Mesjid Tanjong, kecamatan Padang Tijie Kabupaten Pidie, yang berjarak 92 km  ke arah timur dari kota Banda Aceh atau 6 km dari pusat kecamatan Padang tijie atau  17 km kearah utara dari kota Sigli ibukota Kabupaten Pidie dengan jalan masuk dari jalan negara lebih kurang 3 km. Ditinjau dari posisi geografis Lokasi Waduk Rajui terletak pada kooedinat 95.49'09" -95.50'09" BT dan 05.23'39" LU.
            Daerah ini memang diperkirakan merupakan lokasi yang tepat untuk dibangunnya waduk atau bendungan, mengingat Waduk Rajui ini sendiri nantinya akan menerima sumbangan air sebagai tampungan atau storage yang berasal dari presipitasi air hujan efektif dan juga sumbangan air dari Krueng Rajui. Nah ini yang medorong rasa penasaranku lebih dalam, dimana kita mengetahui tentu pembangunan suatu waduk atau bendungan pastinya membutuhkan data perencanaan yang detail. Banyak hal yang dipertimbangkan layaknya data curah hujan, data durasi penyinaran matahari, data evapotranspirasi, dan data laju peresapan air tanah serta data lainnya yang menunjang operasi dari waduk itu sendiri.
            Untuk itu sebelum kita observasi lebih dalam, mari kita lihat dulu data hidroklimatologi lokasi pembangunan Waduk Rajui. Curah hujan rerata bulanan adalah 116 mm, rata-rata curah hujan tahunan wilayah 1.132 mm. Menurut Bada Meteorologi dan Geofisika Blang Bintang, daerah waduk termasuk dalam tipe iklim C (Schemidt Ferguson) dengan nilai Q = 0,5429.  Dari hasil pencatatan suhu dan kelembaban udara stasiun terdekat menyebutkan bahwa kelembaban rata-rata 76,4 % atau dengan kisaran 60% - 86%.  Penyinaran matahari berkisar antara 42% - 72% dengan lama penyinaran 3,4 - 6 jam/hari.      
Waduk seluas 33 hektar tersebut diharapkan mampu mengairi 1.000 hektar lebih areal sawah di Padang Tiji dan sekitarnya dengan pola tanam pada umumnya yaitu padi-padi-palawija. Berdasarkan penuturan narasumber, Pembangunan waduk Rajui menelan biaya sekitar Rp135 Miliar yang bersumber dari dana APBN 2010 yang dikerjakan dengan pola multiyears diperkirakan akan rampung pada tahun 2012. Kehadiran waduk tersebut diharapkan bisa menjawab kebutuhan air para petani.
Total tampungan debit air di Waduk Rajui mencapai 2,6 Juta meterkubik, dengan luas genangan 33,6 hektar, sekaligus sebagai penyedia air baku untuk wilayah Padang Tiji dan sekitarnya. Pembanguna waduk ini sendiri terdiri dari empat bangunan inti yaitu tubuh bendungan, pelimpah atau spillway, bangunan sadap dan pengelak, dan bangunan pengarah aliran.
Tubuh bendungan direncanakan type urugan homogen, dengan koefisien permeabilitas bahan timbunan (k) = 3,445 x 10-6 cm/dt, dengan kedalaman pondasi tubuh bendungan rata-rata 10 m. Tinggi Bendungan (H) :  41,20, Elevasi muka tanah asli derah genangan : + 30,20, Elevasi Tampungan Mati (LWL) : + 33,00, Elevasi Tampungan Efektif (NWL) :  + 57,50 m, Elevasi Muka Air Banjir (HWL) : + 58,99 m, Elevasi Puncak Tubuh Bendung : + 61,20 m.
Bangunan pelimpah terletak pada tumpuan kanan bendungan dengan karakteristik hidrolis pada ujung hilir saluran peluncur mempunyai Kecepatan (V) = 21,65 m/dt, Bilangan Froude (Fr) = 6,30 dan debit per satuan lebar  (q) = 7,30. Type Pelimpah adalah Pelimpah Bebas Type Ogee dengan kelebaran pelimpah yaitu 10 m. Pelimpah ini sendiri telah direncanakan dengan adanya kolam olakan dengan panjang 15 m dan lebar m untuk meredam energi air yang ditimbulkan oleh potensial elevasi.
Bangunan Sadap dan Pengelak menjadi satu yang berbentuk terowongan penyalur (Outlet Channel) dengan konstruksi beton bertulang, dimana nantinya akan dimanfaatkan untuk 1.000 ha sawah dan pemanfaatan untuk air baku dengan rencana debit pengambilan (Q) = 2,08 m3/dt. Bangunan sadap yang berupa terowongan ini akan dibangun dengan panjang terowongan 155 m dan diameter 1,75 m. Sedangkan bangunan pengelak ini sendiri akan dibangun dengan diameter yang sama dengan bangunan sadap namun dengan panjang terowongan 25 m.
Bangunan aliran diperlukan mengingat tampungan Waduk Rajui juga akan berasal dari input Krueng Rajui, sehingga diperlukan bangunan yang dapat mengalihkan aliran dari Krueng Rajui untuk mengisi tampungan Waduk Rajui.
Demikianlah sekilas ulasan tentang Bendungan Rajui yang masih belum rampung pembangunannya, semoga Waduk Rajui ini bisa beroperasi sesuai dengan ekspektasi dan perencanaannya yaitu meningkatkan produksi pertanian dan menciptakan lapangan kerja di kecamatan Padang Tiji dan memenuhi penyediaan air baku untuk air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar